Tampilkan postingan dengan label 2. Melayani Umat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2. Melayani Umat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Maret 2009

Tetap Berdakwah Menjelang Persalinan


Proses melahirkan bukan proses sederhana. Selain berjuang melawan rasa sakit saat persalinan, seorang ibu juga mempertaruhkan nyawa. Banyak persiapan menjelang ‘masa silut’ ini, selain kesiapan ruhiyah, kesiapan fisik juga penting. Setidaknya, demikianlah anggapan sebagain para ibu sehingga mereka lebih banyak beristirahat, terutama beberapa hari menjelang melahirkan.

Namun, ini tidak berlaku bagi anggota legislatif perempuan dari PKS asak Kota Yogyakarta ini. Ibu Anis Sri Lestari punya cara berbeda menjemput kelahiran buah hatinya.

Saat itu, kami melaksanakan launching program sekaligus training. Acaranya sedemikian rupa. Ini acara penting. Kami menyiapkannya dengan sungguh-sungguh. Bu Anis, penasihat panitia, selalu mendampingi rapat kami.

Kami sangat berterima kasih atas pendampingan beliau selama kami rapat. Kami tahu masa itu berat karena menjelang kelahiran buah hatinya yang kedua. Usia kandungannya sudah tua. Beliau sering tampak lelah. Apalagi, amanah di dewan yang sedemikiannya.

Oleh karena itu, kami berusaha tidak merepotkan. Sekadar memberi arahan saja sudah lebih dari cukup. Persiapan kami matang. Apalagi, hari H perkiraan melahirkan bagi Bu Anis.

Betapa terkejutnya ketika ternyata, pada hari H, Bu Anis datang ke acara kami! Saya yang ketika itu sedikit lelah naik turun tangga kaget melihat beliau datang dengan senyum khasnya yang penuh semangat.

Kami buru-buru menyambutnya. Salah seorang ibu berkata, “Lho, kok, masih ke sini? Bukannya HPL-nya hari ini?” Pertanyaan tadi mewakili kami.

Beliau tersenyum, “Alhamdulillah, sekarang sudah bukaan empat.”

Kami tercengang. Ya, Allah… bukaan empat masih sempat jalan-jalan!? Bukankah kebanyakan wanita lain sudah ada di tempat persalinan atau mungkin sedang menahan rasa sakit?

Melihat rupa kami, sambil terus tersenyum, beliau berkata, “Tenang saja saya diantar suami pakai mobil, kok. Nanti kalau terasa sakit, bisa segera pulang.”

Tidak hanya itu.

Acara kami di lantai dua. Kami kira beliau akan menunggu di bawah bersama petugas penerima tamu.

Tidak. Hati-hati beliau meniti tangga demi tangga menuju tempat diselenggarakannya acara.

Hati kami dagdigdug melihatnya.

Begitulah rupanya, rasa berat melahirkan tidak menghambat beliau memberikan sumbangsih bagi dakwah.

Bagaimana dengan kita?
(Ari Pusparini/Muthmainnah)

Senin, 30 Maret 2009

Mobil Milik Siapa?


Hari itu di kantor DPD PKS Kota Yogyakarta. Kami baru saja shalat Isya. Beberapa rekan kemudian beristirahat, sedangkan yang lainnya melanjutkan tugas, menyalurkan bantuan untuk korban gempa di Bantul.

Sebulan setelah gempa, kondisi mulai membaik, tetapi masih banyak yang harus dilakukan. Semua kader dan simpatisan PKS Kota Yogyakarta yang tidak tertimpa musibah, wajib bergerak ke Bantul dan membantu proses recovery warga. Praktis, kami beristirahat sekenanya. Bahkan, kadang harus mencuri-curi waktu seperti selepas shalat malam itu.

Saya hendak ikut berbaring di atas tikar bersama teman-teman, tetapi melihat Ustadz Dwi Budi masih duduk-duduk di mushala. Akhirnya, saya mengurungkan niat untuk istirahat dan memutuskan untuk mengobrol bersama beliau. Namun, sepertinya kondisi ustadz tidak fit. Beliau tidak fokus pada obrolan kami. Ada sesuatu yang mengganggu. Saya mengira, ada masalah dengan penyaluran bantuan di Bantul.

“Nggak, nggak apa-apa, kok. Semua lancar,” jawab Ustadz Dwi Budi saat saya tanya.

Saya mengangguk dan kami kembali bercakap-cakap. Tapi lagi, ustadz sepertinya terganggu dengan sesuatu. Akhirnya, saya bertanya lagi, kali ini menanyakan apakah ada keluarga beliau yang sakit.

Kembali beliau menjawab tidak. Istri dan Aisyah, putri beliau, sehat.

Saya mengagguk lagi. Kali ini, kami saling berdiam diri. Saya bingung harus berkata apa, sedangkan Ustadz Dwi Budi sepertinya enggan berkata-kata. Akhirnya, beliau yang memecah keheningan dengan balik bertanya kepada saya “Apa Yoga pernah tahu kalau saya memakai mobil sedan itu untuk mengantar anak?”

Saya bengong, tidak terlalu nyambung dengan pertanyaan beliau. Ustadz pun menunjuk pada mobil yang parkir di jalan depan kantor DPD.

Saya menggeleng. “Memang kenapa, Ustadz?”

“Nggak…” Beliau kembali terdiam, tetapi kali ini tidak lama. “Tadi ada tetangga yang silaturahim ke rumah. Beliau bercerita kalau ada temannya yang mengatakan bahwa saya ini sering memakai mobil sedan itu untuk keperluan keluarga. Untuk antar anak. Nggak Cuma sekalu-dua kali, tapi sering…” Beliau terdiam lagi. Raut wajahnya terlihat keruh, “Padahal seingat saya, kok, saya tidak pernah, ya, pakai mobil sedan itu untuk keperluan keluarga…”

Saya ikut terdiam dan berpikir keras. Kapan, ya, saya pernah melihat ustadz memakai mobil untuk mengantar anak? Setelah lama berpikir dan tidak menemukan jawaban, saya akhirnya bertanya lagi.

“Lha, temannya tetangga itu melihat Ustadz mengantar Aisyah ke mana?”

Ustadz Dwi Budi terdiam lama, semakin termangu mendengar pertanyyan saya. Beliau kemudian mengeluarkan telepon genggam. Dari percakapan yang kemudian terjadi, saya menangkap beliau menghubungi sang bapak tetangga dan menanakan secara rinci cerita temannya.

Saat Ustadz terdiam dan mendengarkan dengan serius. Tiba-tiba, beliau tertawa.beliau bercakap-cakap beberapa saat dengan sang tetangga sebelum akhirnya menutup telepon dan menatap saya.

Seulas senyum tersungging di bibir.

“Alhamdulillah, masalahnya selesai.” Beliau kemudian menjelasakan. “Ternyata, teman tetangga saya melihat mobil sedan itu di sebuah SD. Mengantar anak yang sekolah di sana, katanya. Nggak mungkin yang pakai saya, wong Aisyah blm sekolah. paling mobil itu sedang dipinjam orang lain.” Beliau tertawa kecil. “Sudah, masalah sudah selesai. Sekarang, bisa tidur. Ayo, istirahat dulu. Nanti kerja lagi.”

Beliau lalu membaringkan diri di lantai mushala. Sesaat kemudian, beliau sudah tertidur dengan seulas senyum masih tersungging di bibir.

Tentu, Anda heran dengan kebingungan Ustadz Dwi Budi atas masalah sepele ini. Mobil sedan untuk mengantar anak seharusnya bukan persoalan besar. Namun, bagi Ustadz Dwi Budi, ini menjadi masalah serius.

Dwi Budi Utomo adalah Wakil ketua DPRD Kota Yogyakarta dari PKS. Mobil sedan yang ia maksud adalah mobil dinas Wakil Ketua DPRD Yogyakarta. Saat menerima mobil dinas itu, Ustadz Dwi Budi berjanji pada dirinya sendiri untuk memakai mobil itu hanya untuk urusan-urusan dinas.

Beliau tidak akan pernah memakai mobil itu untuk masalah-masalah pribadi, terlebih untuk “sekedar” mengantar anak. Kalau tidak sedang digunakan untuk keperluan dinas, mobil itu bebas dipinjam oleh rekan-rekan atau tetangga-tetangga yang membutuhkan. Untuk urusan pribadi, beliau selalu memakai kendaraan pribadi, sebuah sepeda motor tua keluaran tahun 1990-an.

Prinsip itu beliau pegang teguh sampai sekarang. Bahkan, mobil yang sama pernah bertualang sampai ke luar pulau karena dipinjam warga yang membutuhkan. Beliau yang memilih untuk mengalah, pergi ke kantor naik kendaraan lain. Saat saya bertanya mengapa beliau mengizinkan mobil ini dibawa ke luar pulau, Ustadz Swi Budi tersenyum dan balik bertanya, “Lha, memang mobil itu milik siapa? Kan, bukan milik keluarga saya…”
(W.D. Yoga)

Minggu, 29 Maret 2009

Apa Saja untuk Rakyat


“Anggota dewan, dokter gigi, supir, makelar rumah, agen KTP, dan tukang jilid proposal,” seru lelaki muda itu dengan mata menyipit karena tawa.

Aku ikut tertawa.

Di tangan lelaki itu bertumpuk proposal dari masyarakat konstituennya yang akan diajukannya. Belum ada proposal itu yang dijilid. Dia yang akan membawanya ke tukang foto kopi.

Sejak pagi dia berkeliling kecamatan, menemui calon proyek kebajikan. Berdiskusi, menemukan titik temu, mencari solusi, dan memberikan motivasi. Dia tidak mau hanya duduk di rumah, menunggu masyarakat mengajukan permintaan.

Hasilnya belasan rencana kerja pelayanan masyarakat. Tangannya memasukkan proposal itu ke dalam tas besarnya. Sepeda motor usang menunggu. Di bawah terik matahari, lelaki itu melaju membawa selaut harapan.

Rahmat Juliadi, anggota legislatif DPRD Sumedang, ke manapun dia datang, riang dan tawa menjadi warna harinya. Tidak ada masalah yang susah jika disampaikan kepadanya. Seberat apapun, dia memiliki cara meringankan beban.

Warga kesulitan mendapatkan KTP karena tidak memiliki surat pindah dari kedutaan besar luar negeri, telah berupaya ini dan itu tetapi kendala administrasi selalu menghalang. Rahmat lalu membawa formulir KTP itu ke Kepala Desa, menjelaskan masalah dan meminta saran pemecahannya. Dia bahkan menjadikan dirinya jaminan saat aparat desa khawatir warga yang bersangkutan bukan orang yang baik-baik.

Berkali-kali masyarakat membutuhkan mobil dan supir untuk membawa ibu hamil atau warga ke rumah sakit. Rahmat menyediakan waktu dan dirinya.

“Satu-satunya mobil yang berani kita pinjem dan hampir selalu ada, ya, mobil Pak Rahmat, teh,” kata ibu komplek.

Sepagi Sabtu itu, dia mengantarkan satu keluarga ke rumah sakit. Siang minggu dia menjemput salah seorang ibu dari rumah sakit Al-Islam sehabis melahirkan. Pada sore Sabtu yang lain, dia mengantarkan keluarga yang lain ke rumah sakit yang lain. Baru pekan lalu dia menawarkan diri dan mobilnya untuk mengantarkan seorang nenek warga Citali yang sakit parah ke RS Sumedang.

“Kata anak-anak, abi, mah, sibuk wae,” Amie, istri Rahmat, berujar sambil tersenyum.

Di tengah kesibukan yang berjibun, dia masih menyempatkan diri mencarikan informasi rumah kosong bagi yang membutuhkan. Karena dia anggota legislatif, orang berharap dia juga pusat informasi. Termasuk informasi rumah kosong dan calon penghuni rumah.

“Nggak ada masalah, lah, itu.” dia mengibaskan tangan, menolak anggapan bahwa dia telah meringankan kehidupan banyak orang.

karena dia dokter gigi, Rahmat teramat sering kedatangan warga yang sakit gigi dan minta dirawat. Walaupun tidak membuka praktek di rumahnya, dia melakukan pertolongan perawatan gigi darurat di sana.

“Baru dari pak dokter, nih,” kata Ummu Nizar sembari menggendong anaknya malam itu.

“Ada apa, ummi?”

“Nizar sakit gigi. Karena sudah malam, menelepon pak dokter saja. Sama pak dokter disuruh bawa ke rumah. Barusan pak dokter mencabut gigi dik Nizar.”

“Pak dokter, ada, ya?” pikiranku ingat dengan kesibukannya yang luar biasa.

“Nggak ada, sih, tadinya. Tapi pas ditelpon, pak dokter bilang akan pulang dan meminta kita menunggu jika saat datang beliau belum ada.”

Aku mengangguk-angguk. Berapa biaya perawatan supercepat dan personal ini?

“Gratis. Wah, pak dokter nggak mau dibayar. Malah dik Nizar yang dikasih hadiah.”

Ummu Nizar lalu menceritakan pengalamannya yang lain berobat gigi dengan pak dokter Rahmat.

“Beliau nggak pernah mau dibayar,” tekan Ummu Nizar bersemangat.

Hatiku terasa ringan. Ah, luar biasa.

Baru kemarin istri Rahmat cerita. Rahmat mengajari istrinya bahwa pekerjaan dewan bukan “pekerjaan”. Waktu di dewan adalah masa melayani masyarakat. Uang yang didapat dari dewan tidak dijadikan sumber kehidupan. Rahmat menjatah dana keluarga, dan Amie diminta mengaturnya supaya cukup. Mereka berdua sepakat uang yang didapat dari pekerjaan sebagai anggota legislatif dikembalikan kepada masyarakat dalam berbagai bentuk.

“Pak Rahmat nggak pernah tega mengambil uang dari masyarakat. Begitu banyak yang membutuhkannya,” terang Amie.

Rumah Rahmat memang dikenal masyarakat sebagai tempat mencari bantuan. Ada yang kehabisan uang di jalan, singgah, dan minta tolong. Banyak yang meminjam uang dan tidak mampu mengembalikannya. Ada yang memerlukan uang untuk membayar sekolah. dari berbagai daerah, orang menemukan dirinya di depan pintu Rahmat.

“Pokoknya, mah, jika ada yang minta-minta bantuan, kita suruh ke rumah pak Rahmat saja,” cetus seorang kader PKS.

Rumah Rahmat banyak pengunjung.

“Bagi kita, Mun, posisi aleg bukan untuk cari maisyah (penghasilan). Sedapat mungkin uang dari dewan bukan untuk kepentingan keluarga. Pak Rahmat memberikan uang belanja kepada saya. Plus gaji saya. Alhamdulillah berlebih.” Binar mata Amie seperti bintang.

Mata saya berembun.

Sepeda motor itu… sudah sedemikian tua dan jelek… apalagi untuk seorang aleg yang dokter gigi.
(Muthmainnah)